PETISI BUMI SAMBARA UNTUK MATARAM
Bermintalah maaf bagi semua yang hidup. Ungkapkan cinta pada Tuhan, negeri dan bangsa. Berkoalisi menggapai sambara di tanah terjanji Mataram. Isyarat semesta mengembara penuh gelombang samudera. Lautan menghempaskan kapal hingga karang dan tenggelam. Ikan-ikan saling kebingungan merindukan jalan tunda. Rajutan sutra membangunkan awan-awan langit. Bersenandung rindu dengan si hawa bumi. Terpuruklah makhluk yang hidup mencerca semesta karena pasti akan digilasnya. Jaring-jaring sutra langit ditebarkan bagai sangkakala lambaian malaikat. Menghempaskan burung-burung besi ke daratan. Matahari menyuarakan cahaya. Ledakan demi ledakan tak terbilang dan tak terlihat. Arus gelombang lava menggeliat bagai naga. Bumi pun tergoncang, gara-gara ulah manusia semesta memberontak. Angkerlah nusantara untuk bersemayam.
Arwah-arwah penasaran yang terjebak dalam sangkakala memberontak kesakitan. Merenungkan nasib di akhir tujuan. Dosa-dosa menggadai kehidupannya. Kesemuanya karena ulahnya. Apa boleh buat. Mereka menggerayangi kehidupan umat manusia. Kesurupanlah nasib manusia menjadi ulahnya tak terbilang kacaunya. Isi otak menganyam buah arwah yang tersesat. Manusia pun saling beradu fitnah. Cinta dikaburkan bagi sesama, apalagi kasih tak tertebar. Gersanglah pelita manusia karena saling beradu hantam. Tergadailah mereka di alam yang semu kaya kebingungan dan kekhawatiran.
Brajamusti di kedalaman bumi berputar dalam cakra mencari persenyawaan menuju sambara. Begitulah awalnya ketika menggeliat bumi pasti bergoncang. Setidaknya gunung-gunung saling bertautan memuntahkan hawanya. Musim pun merubahkan adatnya. Matahari dalam cahaya melelehkan himalaya. Apa pun yang terjadi esok diawali ini menuju Maha Meru. Cahaya Mandala di atas mahkota seperti salju. Es yang membeku tempat suarnya kabut-kabut plasma tanda gelombang ketiga akan datang. Pantai selatan adalah benua yang tenggelam. Peradaban indah yang gemilang akan tiba. Jika si mandala diturunkan dari langit suar-suar. Ratu selatan melantunkan kembang kebangkitan. Apapun dari di sekitarnya janganlah dijual atau digadaikan karena syarat untuk kebangkitan di hari esok.
Bangsa seberang bukanlah tempatnya untuk jatuh cinta. Paling hanya mampu mengambil rahasia lubuk derita manusia yang telah jawa. Bahasa tawar menggadai atau membeli bahkan mengambil akan dikutuknya. Sayang manusia yang telah jawa hanya tinggal ditinggikan. Tentram di samping kerbau dan ular sancanya. Jika berulah kacaulah dunia menghapuskan banyak pandangan yang dirasa benar.
Manusia yang telah jawa, terampil melihat dibalik alam adalah angan-angan. Sayap-sayap kuda sembrani kerap disiulinya. Penglihatannya menyaksikan segerombolan kuda-kuda sembrani turun dari langit hinggap di Suralaya. Sura berarti suci dan putih seiring dengan kebangkitan cahaya mandala yang selalu diharapkan umat manusia. Laya sedendang dengan loka. Sekumpulan para Jonggring Saloka yang kini disebut Roro Jonggrang tempatnya para Brahmana. Asal usul kejadian bersenggama wicara dalam pencerahan Sangkan Paraning Dumadi menjadi monumen Candi Prambanan. Nyaris semua candi lihai terbangun di atas Jonggring Saloka tempatnya para Brahmana bertaruh mendut mandala menggapai bumi sambara Budhara atau disebut Para Budha.
Kehendak mandala hanya untuk manusia yang telah jawa. Banyak diantara orang jawa yang kehilangan jawanya. Himalaya adalah tempat para bernaungnya para reiki berasal dari Kalasan tempatnya para samba dari Sambisari di negeri Ayodya. Layaknya Hanoman bertaruh keadilan mengabdi pada Sri Rama di negeri Ayodya yang tentram dan makmur. Itulah kumpulan Ayodyakarta tempatnya para Brahmana dan para samba yang harus bersanayana mendut mencapai bumi sambara. Namun kisah itu telah ditelan oleh mulut narasi sejarah. Ajal pun menjadi kenangan karena diusir para arwah dari negeri seberang. Jawa pun kini menjadi tidak tentram karena keangkerannya.
Kehendak membina akhirnya berujung membinasakan. Sepinya cenderung mendesakkan kekakuan hingga mudah mematahkan semangat. Semuanya melepaskan sekaligus merenggut nyawa orang banyak. Harta yang terkumpul disamping konglomerat justru tidak membahagiakan karena mencekik leher para arwah yang telah ratusan hingga ribuan tahun lalu tiada. Amarah para arwah berkumpul. Menyuarakan gelombang peperangan dengan umat manusia. Hanyalah manusia yang telah jawa yang mampu mengatasinya.
Danhyang-danhyang rajin bersorak merdeka namun arwah para seberang mengacungkan senjata dan memenjarakannya. Kaya harta kaya hampa dan kaya hamba yang siap menjeratkan kematian. Alam pikir rasukan iblik laknat alam rasa penuh taring dan cakar-cakar iblis. Begitulah terus beradu. Petir-petir menghampiri para Braja yang sedang menggeliatkan bumi. Tanda membuka pintu kerasukannya manusia. Arwah-arwah menyuarakan genderang perang membawakan tubuh manusia menebangi pohon-pohon rindang membinasakan binatang-binatang. Keseimbangan menghancurkan langit-langit atmosfer pelindung sumber daya bumi dirampoknya. Jadilah tulang-belulang berserakan akhirnya. Itulah tanda hidup berkesimbangan. Alam dan makhluk sepakat dendam membalas nasibnya. Manusia memberontakkan ajal. Namun tak mampu meluapkan isi jiwa. Begitulah hasilnya akibat kebobrokan. Indahnya buah pikiran hanya mampu membuat tulang belulang berserakan dan menghendaki alam memberontak. Itulah tanda dimulainya kemampuan cipta, rasa dan karsa manusia.
Arwah-arwah gerang siang malam membentangkan sial. Awalnya kuda dipertunggangi manusia. Sekarang manusia telah dipergoda menjadi kuda. Dulu manusia beda dengan iblis serta setan. Saat ini sulit dibedakan apalagi dengan binatang. Raba dada mencium maut jauh dari ketabahan dan keikhlasan. Tanda-tanda alam kehidupan tempat menjadi singkat kehidupannya. Manusia rebah di tengah kemajuan terpalang oleh karyanya. Dihajar sistem bingkainya. Apa pun yang terjadi menjauh dari kebebasan. Sesepuh pun jauh dari keseganan. Akhirnya mereka koma jantungnya mulai tidak bergerak. Mengacaukan data-data otaknya yang telah matang. Anak-anak bajang menyembelih ibu bapaknya. Nasibnya hilang kepalang. Batuknya mengikil mengundang ….. kematian. Roda waktu kian cepat berputar. Tanda singkatnya kehidupan di permukaan. Setapak berjarak menawarkan kematian tanpa sadar. Alangkah indah jika mati penuh dengan kesadaran karena itulah jalan menjadi pahlawan.
Arwah-arwah miskin mantera yang membinanya. Para keyakinan selalu mengusirnya. Beringaslah jiwa mereka menekan takdir dan kodrat. Terjebaklah waktu manusia kaya sengkala. Waktu tiba manusia yang telah jawa menyuarakan sangkakala. Namun sayang tidak diberi kesempatan. Hanya sangkakala yang terbunyikan yang mampu membebaskan roda yang terjebak. Jangan tanya takdir dan kodrat yang terjebak waktu berasal dari mana. Para cerdas dari negeri seberang pun tak akan bisa menjawabnya. Seindah-indahnya mereka berakhir dengan kebinasaan. Begitulah jalan terkutuk bagi mereka. Manusia jawa di dunia menjadi separuh harapan dan mereka disisakan sejodoh saja.
Ha… ha… ha… mereka tidak tahu apa nasib waktu. Hanya bumi sambara yang menjanjikan sekalipun mereka menghancurkannya tetaplah masih ada. He… he… he… mereka tergila-gila bumi sambara dan bumi penuh mandala. Tetaplah roda waktu tidak di atas pengertiannya. Walaupun mereka menyewa gedung lebar sehalaman. Bersiap-siap pun akan hancur dalam sandyakala terpaksa terus dan terus mengulanginya.
Awas jika saatnya bende mataram dibunyikan. Saatnya tiba bagi yang berani hidup sekaligus mati berulang-ulang menuai kejayaan. Urat-urat emas bermunculan. Uranium penuh gemilang. Plutonium menggegaskan niat semangatnya menyesakkan pilar-pilar kekuatan di muria. Induk-induk kapal lautan bagi kapal terbang terhempaskan oleh mandala-mandala yang bertebaran di angkasa. Saat tiba bertolak dan berlabuh di bumi sambara. Ketika arwah-arwah penasaran telah genap dengan perayaannya kembalilah mereka ke pangkuan-Nya tanda dosa dan desah di akhirnya.
Arwah-arwah membina keturunannya untuk bermimpi kemerdekaan. Binatang-binatang bertaburan menguatkan mandala. Jonggring Saloko menjadi tempat perpaduan untuk berpulang kepada-Nya. Tibalah jala sutra menggapai jala tunggal laba-laba. Genetika dan DNA berbagi perasaan terus maju pantang mundur menggarami lautan. Menggiring angin menguras air samudera raya hingga kapal-kapal negeri seberang tiada bertabuh dan terbang. Jalur khatulistiwa di lintasan nusantara diperundang-undangkan. Negeri penuh debu menjadi penuh kemilauan emas. Satelit-satelit diatur lintasannya tanda membayar pajak hutang nyawa hutang harta terbalaskan pandangan jelas di belakang kuda untuk beradu pandang. Terbitlah terang mengusir kegelapan malam terlihat sekecil pun kerikil-kerikil tajam. Arwah-arwah kegirangan jala tundanya mencari manusia tanpa rasa. Berkena semburan dan ikatan maut terpaut. Para pendoa menabuh genderang tanda sudah sadar menghentikan fitnah. Gerimis sudah tidak mempercepat kelam tetapi justru membangun …… putih pencerahan.
Arwah-arwah terbangkitkan mantra kendaraan roda …… menghantarkannya. Angin-angin menjadi lintasannya. Sungai-sungai menjadi pertelapakkannya. Mata air mata api sumber vitalitasnya. Cahaya matahari menyelimuti tujuannya. Gravitasi dan tilem menggegaskan gagasan. Arwah-arwah melayang masuk dalam jiwa-jiwa penasaran mengusir bagi yang tidak percaya bahwa bumi sambara itu ada. Mataram sebagai jembatan karena itulah pencapaian Ilahi dunia ada. Sambara sebagai pencapaian surga Ilahi. Itulah suar menjadi arga dimana suar adalah langit-langit mulia dan suci. Arga adalah puncak. Genap sudah arti sebuah surga. Perlu terbuka bagi yang berkehendak menuai upah cinta.
Arwah-arwah penasaran disuarkan arga oleh para peminat sejarah yaitu para peziarah. Sama artinya re-read threat yaitu kembali dalam pergulatan sejarah untuk maju pesat. Tujuan demi tujuan berantas padu membangun singgasana donga yang berarti mengerti alam kehendak Tuhan. Begitulan doa yang berulang dengan lintani sama-sama berkehendak bergumul dengan narasi sejarah masa lalu. Seperti panah yang ditarik mundur terlebih dahulu anak panahnya dan busur agar melesat ke depan penuh arah. Mawas arwah-arwah bersorak-sorai bagi yang mawas atas asal usul kepribadiannya. Penuh semangat menyuarakan cinta itulah tanda alas ketonggo terbuka lebar untuk dimengerti misterinya. Kehendak maju pesat dengan penuh kembang yang menebar diawali dengan mengenang sejarah. Mengambil berkah rumus jala tunda menjalani peta jalan jalan sutra.
Ratu-ratu berlinang mata seperti angin yang galau medesak. Keluhnya menbangkitkan para arwah. Namun tiada upaya karena tidak punya perangkat. Arwah ingin mantra kebangkitan tapi ratu beri tumbal korban. Bodohlah ratu-ratu itu karena terbelenggu oleh dunia dalam berita. Selusin malaikat ingin turun namun tiada yang dihingapinya akhirnya pulang. Dewa-dewi membuka tabir pintu gerbangnya menuju kuantum alamnya putting beliung tandanya dimana-mana. Namun sayang tiada yang mampu memasukinya. Akhirnya dewa-dewi gerang bukan kepalang menyisakan waktu kesusahan. Para bethara-bethari memuntahkan isinya. Berwujud naga-naga marah. Namun ratu-ratu itu tidak bergeming kesadaran. Gagallah narasi secara tersambung.
Ratu-ratu dengan sombongnya memberikan restu wingit dan angker. Menghalau demi menghalau anak-anak bajang. Kiamatlah dia jika tidak mengerti keadaan karena darah DNA ada padanya. Tak hanya arwah-arwah yang menanti makhluk-makhluk luhur dan suci pun menanti untuk berpulang kepada-Nya. Tempat untuk berkarya tiada mampu punya kesan dan menangkap pesan. Dipinang untuk menjadi pelaminan dunia. Justru ratu-ratu itu mengangkat keris keramat. Siapakah hendaknya yang harus bertanggungjawab? Mereka hanya melihat dunia ini dihitung seperti mtr, artinya tawaran yang selalu melekat dengan material duniawi. Harusnya mereka sebagai jembatan yang mikro dan makro yang saling berkeseimbangan. Terhujatlah ratu-ratu yang tidak tembus pandang menemui ajal. Tahtanya untuk rakyat.
Senin, 09 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar